ASEAN Super League Hanyalah Ucapan Manis

Sebuah program yang diharapkan akan menjadi kompetisi terbesar antarklub Asia Tenggara ternyata hanya menjadi sebuah ucapan manis saja.

Wacana kompetisi ini sejatinya sudah muncul sejak lebih dari satu dekade yang lalu. Tahun ini sebenarnya menjadi target peluncuran kompetisi, namun berbagai kendala muncul hingga akhirnya mengalami penundaan sampai batas waktu yang tak pasti atau bisa dikatakan tak akan pernah terwujud.

Semakin tidak jelasnya proyek besar yang melibatkan klub-klub negara anggota ASEAN yang hendak digunakan untuk meningkatkan iklim persaingan tersebut dikonfirmasi langsung oleh sekretaris jenderal Asosiasi bursa taruhan bola Asia (AFC) Windsor John, Jumat (23/6) kemarin.

“Mereka [penyelenggara kompetisi] telah resmi memberitahu kami bahwa tak lagi mengejar ASL,” ungkapnya kepada The New Paper sembari menyatakan pihaknya memang belum pernah memberi izin karena belum mendapat penjelasan secara rinci soal struktur liga dalam tubuh AFC.

Hingga sejauh ini, AFC menaungi dua kompetisi antarklub Asia secara resmi yakni Liga Champions Asia dan Piala AFC, dengan jalur ke sana adalah melalui masing-masing liga domestik. Dan penyelenggara tak bisa memberi kepastian soal ke mana arah muara ASL.

Konsep liga pun belum begitu jelas diungkapkan. Jika menyertakan deretan klub terbaik masing-masing negara Asia Tenggara, maka bakal ada potensi bentrok jadwal domestik dan mancanegara dan apabila hanya diisi oleh klub-klub di luar yang mendapatkan jatah tampil di Asia, maka kompetisi tak akan memiliki nilai jual lebih. Demikian juga jika menggunakan konsep franchise dengan membentuk klub-klub baru, potensi jangka panjang memang ada namun hal itu tentu tak begitu menggiurkan bagi pihak penyelenggara.

Belum adanya kepastian konsep tersebut membuat gelombang penolakan baik dari para pengurus mau pun fans sudah menggema luas. Thailand dan Indonesia yang merupakan dua negara yang memiliki nilai komersial tinggi pada kompetisi, telah menjadi yang paling gencar menyuarakan penolakan.

Negara lain yang sudah menyuarakan aspirasi isyarat penolakan adalah Indonesia, Kamboja dan Malaysia. Hanya saja bagi Malaysia mereka mengisyaratkan akan menanggapi apabila kompetisi menggunakan sistem franchise dengan membentuk tim baru dan tanpa menyertakan klub-klub yang telah eksis di kancah domestik.

Sementara satu-satunya negara yang gencar menginginkan adanya ASL adalah Singapura saat federasi mereka masih dipimpin oleh Zainudin Nordin. Seperti ingin mengulangi proyek pembentukan tim taruhan bola LionsXII pada 2012 lalu yang sempat berjaya di kompetisi Malaysia Super League (MSL) sebelum dihentikan dua tahun lalu, hadirnya ASL dinilai bisa kembali meningkatkan sepakbola Singapura baik dari segi gairah, kualitas mau pun komersial.

Hanya saja niatan itu tak satu pikiran dengan fans mereka yang justru menentang keras gagasan mengikuti ASL dan meminta agar kompetisi domestik Singapura, S-League lebih diperhatikan lagi perkembangannya agar bisa sejajar dengan negara-negara lainnya karena jauh mengalami penurunan dan tak bisa lagi mencicipi persaingan di Liga Champions Asia sejak terakhir kali Warriors FC, yang dulunya bernama Singapore Armed Forces saat itu tampil pada edisi 2010.

Nilai komersial akan sekalu menjadi daya tarik kompetisi di era sepakbola modern. Dan tanpa partisipasi negara-negara yang memiliki barisan pendukung fanatik seperti Indonesia, Thailand, Vietnam dan Malaysia maka ASL bisa dipastikan tak akan pernah terlaksana seperti yang diyakini mantan pemain taruhan bolaSingapura, R.Sasikumar.

“Negara kunci seperti Indonesia, Thailand, Vietnam dan Malaysia masih suam-suam kuku dalam menanggapi konsep,” ujarnya. “Tanpa adanya basis besar penggemar dari negara-negara tersebut yang bisa mendorong nilai komersial, maka tak ada yang bisa ditawarkan ASL.”